Selasa, 12 Maret 2013

Conditional Sentences Tipe 1, 2, 3


Conditional Sentences

You often suppose, right? Also it is often imply-if, right? Well imply-if it was said to be a conditional sentence. Conditional sentence in the English language support is divided into 3 types: possible future condition (condition that may occur in the future), present unreal condition (condition that is not possible / not real now), and past unreal condition (a condition that is not real / not real in the past).
Into three types above usually called type 1, type 2, and type 3. For type 1 is also commonly called a conditional sentence. Example: if it is not raining, I'll go play futsal afternoon. So in the example sentence modality (conditional sentence) there are conditions. Requirement is that if it is not raining. As for type 1 and type 2 is said to be a presupposition sentences that do not fit or do not fit with the reality of facts, language daily called suppose. Example:
· If only I had wings. (Fact: I do not have wings).
· I hope you now by my side. (Fact: you are not beside me now).
· If only I had enough money, I would have bought the car. (Fact: I do not have enough money, and I did not / do not buy the car).
Well the above is included in the type 2 and type 3. Continues difference what? Want to know? Curious huh? ^ _ ^ Good meaning if curious hehehehe .... Later on ya described below. Patience ya1 ^ _ ^. Keep smiling wrote. Now we explain the three types above one by one.
1. Conditional Sentence Type 1
Formula:
IF + S + VERB (PRESENT), S + VERB (PRESENT)
Or
IF + S + VERB (PRESENT), S + WILL + VERB
Example:

a. If I do not eat breakfast, I always get hungry during class.
b. If I have the money tomorrow, we can go for movies.
c. If I have time, I will go.
d. If I have a job, I will marry her.
e. If anyone calls, please take a message.
f. If anyone should call, please take a message.
g. Provided you will not call on me to sing, I will come.
h. Providing you will not call on me to sing, I will come.
i. In case Tome comes, we will buy some more food.

In the example sentence (e) and (f), to both have a meaning that is not much different. The difference is added to the word sentences should (f) means less confident than in sentence (e). For the words provided, providing, and said in case has the same functionality with the word if. The difference is in terms of meaning. If: if; Provided / providing: so long as / so long as: Tome might be coming.
Note: if the word was in the middle of a sentence if there is no comma between the both. Example:
· If I see him, I will give him a peace of my mind. (Use a comma)
· I will give him a peace of my mind if I see him. (No commas)


2. Conditional Sentence Type 2
The second type is called the present unreal condition (a state that does not fit the current reality). This type is used to assume something that is contrary to or inconsistent with the current situation. If interpreted word if or when alone.
Formula:
IF + S + VERB (PAST), S + VERB (PAST)
Or
IF + S + VERB (PAST), S + + WOULD VERB

Example:
a. If it were a holiday, we could go. (Fact: it is not a holiday, and we can not go).
b. I could fly if I were a bird. (Fact: i am not a bird, so i can not fly).
c. I would buy a car if I were rich. (Fact: i am not rich).
d. I would marry her if she loved me. (Fact: she does not love me).
e. If I were a president, I would go around the world. (Fact: I am not a president).
f. I would be so happy if she Became my girlfriend. (Fact: she is not my girlfriend).

Note: we do not use the word was but it said were good for the singular and plural subjects.



3. Conditional Sentence Type 3
The third type is called unreal past condition (a condition that is not apparent in the past). Type the two is used to assume anything contrary to or inconsistent with the reality of the past. The word also means if any if or if.
Formula:
IF + S + HAD + VERB III, S + HAD + VERB III
Or
IF + S + HAD + VERB III, S + + WOULD HAVE + VERB III

Example:
a. If I had studied hard, I would have passed the exam. (Fact: I failed the exam).
b. If I had known the truth, I would have told you. (I did not know the truth).
c. If the Dutch had not colonized us, Indonesia would have been a reach country. (Fact: the Dutch colonized us).
d. If I had seen the movie, I would have told you. (Fact: I did not see the movie).



Finish! How? Already know about the conditional sentence? ^ _ ^
Eh .... Do not go outside there is an additional modality ya TURN WORDS IN SENTENCE IF SOMETIMES REMAIN THE SAME MEANING BUT eliminated. Want to know? Let's see the following example! Oh yes, this pattern is called inversion (reversal).
Example:

a. If I were you, I would not do that to Were I you, I would not do that.
b. If I had known, I would have told you to be Had i known, i would have told you.
c. If anyone should call, please take a message to Should anyone call, please take a message.

Source :
http://hanahanamontana.blogspot.com/2012/09/conditinal-sentence-type-12-3.html

Kamis, 10 Januari 2013

ETIS DALAM PERIKLANAN

MEIKO RANDYA L
14209653
4EA15
ETIS DALAM PERIKLANAN

A. Definisi Iklan
Iklan menurut Thomas M. Garret, SJ, dapat dipahami sebagai aktivitas-aktivitas yang berupa pesan-pesan visual atau moral dan disampaikan kepada khalayak dengan maksud menginformasikan atau mempengaruhi mereka untuk membeli barang dan jasa yang diproduksi, atau untuk melakukan tindakan-tindakan ekonomi secara positif terhadap idea-idea, institusi-institusi atau pribadi-pribadi yang terlibat di dalam iklan tersebut. Untuk membuat konsumen tertarik, iklan harus dibuat menarik bahkan kadang dramatis. Tapi iklan tidak diterima oleh target tertentu (langsung). Iklan dikomunikasikan kepada khalayak luas (melalui media massa komunikasi iklan akan diterima oleh semua orang: semua usia, golongan, suku, dsb). Sehingga iklan harus memiliki etika, baik moral maupun bisnis.
Masalah moral dalam iklan muncul ketika iklan kehilangan nilai-nilai informatifnya, dan menjadi semata-mata bersifat propaganda barang dan jasa demi profit yang semakin tinggi dari para produsen barang dan jasa maupun penyedia jasa iklan. Padahal, sebagaimana juga digarisbawahi oleh Britt, iklan sejak semula tidak bertujuan memperbudak manusia untuk tergantung pada setuap barang dan jasa yang ditawarkan, tetapi justru menjadi tuan atas diri serta uangnya, yang dengan bebas menentukan untuk membeli, menunda atau menolak sama sekali barang dan jasa yang ditawarkan. Hal terakhir ini yang justru menegaskan sekali lagi tesis bahwa iklan bisa menghasilkan keuntungan-keuntungan bagi masyarkat.
B. Fungsi Periklanan
Periklanan dibedakan dalam dua fungsi :
Fungsi informatif dan fungsi persuasif. Tetapi pada kenyataannya tidak ada iklan yang semata-mata informatif dan tidak ada iklan yang semata-mata persuasif.
C. Beberapa Prinsip Moral yang Perlu ada di dalam Iklan
Terdapat paling kurang 3 prinsip moral yang bisa dikemukakan di sini sehubungan dengan penggagasan mengenai etika dalam iklan.
Ketiga prinsip itu adalah :
(1) masalah kejujuran dalam iklan,
(2) masalah martabat manusia sebagai pribadi, dan
(3) tanggung jawab sosial yang mesti diemban oleh iklan.
Ketiga prinsip moral yang juga digaris bawahi oleh dokumen yang dikeluarkan dewan kepuasan bidang komunikasi sosial untuk masalah etika dalam iklan ini kemudian akan didialogkan dengan pandangan Thomas M. Gerrett, SJ yang secara khusus menggagas prinsip-prinsip etika dalam mempengaruhi massa (bagi iklan) dan prinsip-prinsip etis konsumsi (bagi konsumen). Dengan demikian, uraian berikut ini akan merupakan “perkawinan” antara kedua pemikiran tersebut.
  • PRINSIP KEJUJURAN
Prinsip ini berhubungan dengan kenyataan bahwa bahasa penyimbol iklan seringkali dilebih-lebihkan, sehingga bukannya menyajikan informasi mengenai persediaan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh konsumen, tetapi mempengaruhi bahkan menciptakan kebutuhan baru. Maka yang ditekankan di sini adalah bahwa isi iklan yang dikomunikasikan haruslah sungguh-sungguh menyatakan realitas sebenarnya dari produksi barang dan jasa. Sementara yang dihindari di sini, sebagai konsekuensi logis, adalah upaya manipulasi dengan motif apa pun juga.
  • PRINSIP MARTABAT MANUSIA
Bahwa iklan semestinya menghormati martabat manusia sebagai pribadi semakin ditegaskan dewasa ini sebagai semacam tuntutn imperatif (imperative requirement). Iklan semestinya menghormati hak dan tanggung jawab setiap orang dalam memilih secara bertanggung jawab barang dan jasa yang ia butuhkan. Ini berhubungan dengan dimensi kebebasan yang justeru menjadi salah satu sifat hakiki dari martabat manusia sebagai pribadi. Maka berhadapan dengan iklan yang dikemas secanggih apa pun, setiap orang seharusnya bisa dengan bebas dan bertanggung jawab memilih untuk memenuhi kebutuhannya atau tidak.
Yang sering kali terjadi adalah manusia seakan-akan dideterminir untuk memilih barang dan jasa yang diiklankan, hal yang membuat manusia jatuh ke dalam sebuah keniscayaan pilihan. Keadaan ini bisa terjadi karena kebanyakan iklan dewasa ini dikemas sebegitu rupa sehingga menyaksikan, mendengar atau membacanya segera membangkitkan “nafsu” untuk memiliki barang dan jasa yang ditawarkan (lust), kebanggaan bahwa memiliki barang dan jasa tertentu menentukan status sosial dalam masyarkat, dll.
  • IKLAN DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL
Seperti sudah dijelaskan sebelumnya di atas, bahwa iklan harus menciptakan kebutuhan-kebutuhan baru karena peranannya yang utama selaku media informasi mengenai kelangkaan barang dan jasa yang dibutuhkan manusia, namun dalam kenyataannya sulit dihindari bahwa iklan meningkatkan konsumsi masyarakat. Artinya bahwa karena iklan manusia “menumpuk” barang dan jasa pemuas kebutuhan yang sebenarnya bukan merupakan kebutuhan primer. Penumpukan barang dan jasa pada orang atau golongan masyarkat tertentu ini disebut sebagai surplus barang dan jasa pemuas kebutuhan.
Sungguh menyedihkan bahwa surplus ini hanya dialami oleh sebagai kecil masyarakat. Bahwa sebagian kecil masyarakat ini, meskipun sudah hidup dalam kelimpahan, toh terus memperluas batasa kebutuhan dasarnya, sementara mayoritas masyarakat hidup dalam kemiskinan.
Di sinilah kemudian dikembangkan ide solidaritas sebagai salah satu bentuk tanggung jawab sosial dari iklan. Berhadapan dengan surplus barang dan jasa pemuas kebutuhan manusia, dua hal berikut pantas dipraktekkan. Pertama, surplus barang dan jasa seharusnya disumbangkan sebagai derma kepada orang miskin atau lembaga/institusi sosial yang berkarya untuk kebaikan masyarakat pada umumnya (gereja, mesjid, rumah sakit, sekolah, panti asuhan, dll). Tindakan karitatif semacam ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa kehidupan cultural masyarakat akan semakin berkembang. Kedua, menghidupi secara seimbang pemenuhan kebutuhan fisik, biologis, psikologis, dan spiritual dengan perhatian akan kebutuhan masyarakat pada umumnya. Perhatian terhadap hal terakhir ini bisa diwujudnyatakan lewat kesadaran membayar pajak ataupun dalam bentuk investasi-investasi, yang tujuan utamanya adalah kesejahteraan sebagian besar masyarakat.
F. Ciri-ciri iklan yang baik
1. Etis: berkaitan dengan kepantasan
2. Estetis: berkaitan dengan kelayakan (target market, target audience dan target time)
3. Artistik: bernilai seni sehingga mengundang daya tarik khalayak.
G. Contoh Penerapan Etika dalam Periklanan
1. Iklan sabun mandi: Tidak dengan memperlihatkan orang mandi secara utuh.
2. Iklan rokok: Tidak menampakkan secara eksplisit orang merokok
3. Iklan pembalut wanita: Tidak memperlihatkan secara realistis dengan memperlihatkan daerah kepribadian wanita tersebut
Dikutip dari :
- http://dedewulan90.wordpress.com/2011/11/21/periklanan-dengan-menggunakan-etika-bisnis-grup/
- http://initugasku.wordpress.com/2010/03/03/%E2%80%9Cperiklanan-dan-etika%E2%80%9D/
- http://jeremiasjena.wordpress.com/2010/10/05/etika-dalam-iklan/

Selasa, 08 Januari 2013

BAB 10 - IKLAN DAN DIMENSI ETISNYA

BAB I PENDAHULUAN

Iklan pada hakikatnya merupakan salah satu strategi pemasaran yang bermaksud untuk mendekatkan barang yang hendak dijual kepada konsumen, dengan kata lain mendekatkan konsumen dengan produsen. Sasaran akhir seluruh kegiatan bisnis adalah agar barang yang telah dihasilkan bisa dijual kepada konsumen. Secara positif iklan adalah suatu metode yang digunakan untuk memungkinkan barang dapat dijual kepada konsumen.
Masalah moral dalam iklan muncul ketika iklan kehilangan nilai-nilai informatifnya dan menjadi semata-mata bersifat propaganda barang dan jasa demi profit yang semakin tinggi dari para produsen barang dan jasa maupun penyedia jasa iklan.
Menurut Dewan Periklanan Indonesi (DPI), etika adalah sekumpulan norma, aza, sistem perilaku yang dibuat oleh sekelompok tertentu yang harus ditaati oleh individu/kelompok individu yang menjadi anggotanya atas dasar moralitas baik-buruk atau benar-salah untuk hal/aktivitas/budaya tertentu. Etika adalah lini arahan atau aturan moral dari sebuah situasi dimana seseorang bertindak dan mempengaruhi tindakan orang atau kelompok lain. Definisi etika ini juga berlaku untuk kelompok media sebagai subjek etis yang ada. Pilihan-pilihan etis juga harus berdasarkan kaidah norma atau nilai yang menjadi prinsip utama tindakan etis.
Sedangkan etika periklanan adalah ukuran kewajaran nilai dan kejujuran dalam sebuah iklan. Menurut Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I), etika periklanan adalah seperangkat norma yang padan dan mesti diikuti oleh para politis periklanan dalam mengemas dan menyebarluaskan pesan iklan kepada khalayak ramai, baik melalui media massa maupun media ruang. Menurut Etika Pariwara Indonesia (EPI), etika periklanan adalah ketentuan-ketentuan normatif yang menyangkut profesi dan usaha periklanan yang telah disepakati untuk dihormati, ditaati, dan ditegakkan oleh semua asosiasi dan lembaga pengembangnya.
Untuk melihat persoalan iklan dari segi etika bisnis, kami ingin menyoroti empat hal penting, yaitu fungsi iklan, beberapa persoalan etis periklanan, makna etis menipu dalam iklan, dan tentang kebebasan konsumen.


BAB II PEMBAHASAN

1.      Fungsi Iklan Sebagai Pemberi Informasi dan Pembentuk Opini
A.      Fungsi Periklanan
Iklan dilukiskan sebagai komuniskasi antara produsen dan pasar, antara penjual dan calon pembeli. Dalam proses komunikasi iklan menyampaikan sebuah “pesan”. Dengan demikian kita mendapat kesan bahwa periklanan terutama bermaksud memberi informasi. Tujuan terpenting adalah memperiklankan produk/jasa.
Fungsi iklan dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu berfungsi memberi informasi dan membentuk opini (pendapat umum).
a.       Iklan berfungsi sebagai pemberi informasi
Pada fungsi ini, iklan merupakan media untuk menyampaikan informasi yang sebenarnya kepada masyarakat tentang produk yang akan atau sedang ditawarkan di pasar. Pada fungsi ini, iklan memberikan dan menggambarkan seluruh kenyataan serinci mungkin tentang suatu produk. Tujuannya agar calon konsumen dapat mengetahui dengan baik produk itu, sehingga akhirnya memutuskan untuk membeli produk tersebut.
b.      Iklan berfungsi sebagai pembentuk opini (pendapat umum)
Pada fungsi ini, iklan mirip dengan fungsi propaganda politik yang berupaya mempengaruhi massa pemilih. Dengan kata lain, iklan berfungsi menarik dan mempengaruhi calon konsumen untuk membeli produk yang diiklankan. Caranya dengan menampilkan model iklan yang persuasif, manipulatif, tendensus dengan maksud menggiring konsumen untuk membeli produk. Secara etis, iklan manipulatif jelas dilarang, karena memanipulasi manusia dan merugikan pihak lain.
2.       Beberapa Persoalan Etis Periklanan
a.         Merongrong ekonomi dan kebebasan manusia.
b.         Menciptakan kebutuhan manusia dengan akibat manusia modern menjadi konsumtif.
c.         Membentuk dan menentukan identitas dan citra manusia modern.
d.        Merongrong rasa keadilan sosial masyarakat.
Dari persoalan diatas, beberapa prinsip yang kiranya perlu diperhatikan dalam iklan, sebagai berikut :
a.       Iklan tidak boleh menyampaikan informasi yang palsu dengan maksud memperdaya konsumen.
b.  Iklan wajib menyampaikan semua informasi tentang produk tertentu, khususnya menyangkut keamanan dan keselamatan manusia.
c.      Iklan tidak boleh mengarah pada pemaksaan khususnya secara kasar dan terang-terangan.
d.     Iklan tidak boleh mengarah pada tindakan yang bertentangan dengan moralitas.
3.       Makna Etis Menipu Dalam Iklan
Fungsi iklan pada akhirnya membentuk citra sebuah produk dan perusahaan di mata masyarakat. Citra ini terbentuk oleh kesesuaian antara kenyataan sebuah produk yang diiklankan dengan informasi yang disampaikan dalam iklan. Prinsip etika bisnis yang paling relevan dalam hal ini adalah nilai kejujuran. Dengan demikian, iklan yang membuat pernyataan salah atau tidak benar dengan maksud memperdaya konsumen adalah sebuah tipuan.
4.       Kebebasan Konsumen
Iklan merupakan suatu aspek pemasaran yang penting, sebab iklan menentukan hubungan antara produsen dengan konsumen. Secara konkrit, iklan menentukan pula hubungan penawaran dan permintaan antara produsen dan pembeli, yang pada gilirannya ikut pula menentukan harga barang yang dijual dalam pasar.
Kode etik periklanan tentu saja sangat diharapkan untuk membatasi pengaruh iklan ini. Akan tetapi, perumusan kode etik ini harus melibatkan berbagai pihak, yang antara lain: ahli etika, konsumen (lembaga konsumen), ahli hukum, pengusaha, pemerintah, tokoh agama, dan tokoh masyarakat tertentu, tanpa harus merampas kemandirian profesi periklanan. Yang juga penting adalah bahwa profesi periklanan dan organisasi profesi periklanan perlu benar-benar mempunyai komitmen moral untuk mewujudkan iklan yang baik bagi masyarakat. Namun, jika ini tidak memadai, kita membutuhkan perangkat legal politis dalam bentuk aturan perundang-undangan tentang periklanan beserta sikap tegas tanpa kompromi dari pemerintah melalui departemen terkait untuk menegakkan dan menjamin iklan yang baik bagi masyarakat.


BAB III PENUTUP

Iklan memang tidak bisa dihapus dari kehidupan manusia. Bukan saja karena pemahan kita mengenai iklan dalam artinya yang luas sebagai segala kegiatan manusia dalam menginformasikan kepentingan-kepentingan tertentu kepada publik, tetapi juga bahwa iklan sejak semula tidak bersifat propagandis. Maka sebagai usaha untuk menghapus citra iklan yang sugestif dan propagandis bukan dengan menghapus iklan, tetapi dengan mengembalikan iklan pada misi yang sejati.
Salah satu tugas etikawan di bidang ini adalah mendidik masyarakat untuk selalu bersikap rasional. Kepemilikan atas sikap ini yang kemudian bisa diandalkan sebagai semacam senjata pamungkas berhadapan dengan iklan yang semata sugestif. Iklan pada akhirnya akan membunuh diri sendiri jika tetap beranggapan, bahwa konsumen merupakan pihak yang selalu bisa dibohongi. Sementara karena jasa para etikawan, masyarakat perlahan-lahan memupuk sikap rasional.

ETIKA UTILITARIANISME DALAM BISNIS

UTILITARIANISME
        “Utilitarisme “ berasal dari kata latin utilis yang berarti “ bermanfaat “. Menurut teori ini suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saj satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan. Jadi, utilitarisme ini tidak boleh di mengerti dengan cara egoistik. Menurut suatu perumusan terkenal, dalam rangka pemikiran utilitarisme (utilitarianism) kriteria untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan adalah the greatest hainess of the greatest number, kebahagiaan terbesar dari jumlah orang terbesar. Manfaat yang di maksudkan utilitarisme bisa di hitung juga sama seperti kita menghitung untung dan rugi atau kredit dan debet dalam konteks bisnis. Dan memang pernah ada penganut utilitarisme yang mengusahakan perhitungan macam itu di bidang etika. 
         Utilitarisme disebut lagi suatu teori teleologis (dari kata yunani telos = tujuan), sebab menurut teori ini kualitas etis suatu perbuatan di peroleh dengan dicapainya tujuan perbuatan. Perbuatan yang memang bermaksud baik tetapi tidak menghasilkan apa-apa, menurut utilitarisme tidak pantas disebut baik. Utilitarisme dapat memberi tempat juga kepada pengertian “ kewajiban “ , tapi hanya dalam arti bahwa manusia harus menghasilkan kebaikan dan bukan keburukan. Dalam perdebatan antara para etikawan, teori utilitarisme menemui banyak kritik. Keberatan utama yang dikemukakan adalah bahwa utilitarisme tidak berhasil menamung dalam teorinya dua aham etis yang amat penting, yaitu keadilan dan hak.
Dengan maksud mencari jalan keluar dari kesulitan terakhir ini, beberapa utilitas telah mengusulkan untuk membedaka dua macam utilitarisme : utilitarisme perbuatan (act utilittaranisme), dan utilitarisme aturan ( rule utilitarisme). Yang di jelaskan di atas - mereka tegaskan – adalah utilitarisme perbuatan. Di situ prisip dasar utilitarisme (manfaat terbesar bagi jumlah orang terbesar) diterapkan pada perbuatan. Prinsip dasar itu di pakai untuk menilai kualitas moral suatu perbuataan. Utilitarisme perbuatan ini – mereka akui – tidak luput dari kesuliatan teoritis yang besar , bahkan menghancurkan. Namun demikian, dengan itu utilitarisme sendiri belum hancur, karena di samping utilitarisme perbuatan masing-masih ada kemungkinan lain : utilitarisme aturan. Prinsip dasar utilitarisme tidak harus di terapkan atas perbuataan-perbuatan yang kita lakukan, melain atas aturan-aturan moral yang kita terima bersama dalam masyarakat sebagai pegangan bagi perilaku kita. Suatu aturan moral bisa diterima sebagai  sah dan benar, jiak tahan uji terhadap prinsip utilitaristis. Kita dapat menyimpulkan bahwa utilitarisme aturan membatasi diri ada justifikasi aturan-aturan moral.
Sumber :
Budiono , gatut, L ., Etika, jakarta, widya pustaka, 2008.
Bertens,K., Etika,Jakarta,Gramedia Pustaka Utama, cetakan ke-4,1999.
http://ms.wikipedia.org/wiki/Utilitarianisme

Rabu, 10 Oktober 2012

Pengertian Etika Bisnis dan Penerapannya (dalam kehidupan sehari-hari)

nama : meiko randya laksamana

kelas : 4ea15

npm : 14209653

 

Pengertian Etika Bisnis

Etika bisnis merupakan cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan dan juga masyarakat. Etika Bisnis dalam suatu perusahaan dapat membentuk nilai, norma dan perilaku karyawan serta pimpinan dalam membangun hubungan yang adil dan sehat dengan pelanggan/mitra kerja, pemegang saham, masyarakat.

Perusahaan meyakini prinsip bisnis yang baik adalah bisnis yang beretika, yakni bisnis dengan kinerja unggul dan berkesinambungan yang dijalankan dengan mentaati kaidah-kaidah etika sejalan dengan hukum dan peraturan yang berlaku.
Etika Bisnis dapat menjadi standar dan pedoman bagi seluruh karyawan termasuk manajemen dan menjadikannya sebagai pedoman untuk melaksanakan pekerjaan sehari-hari dengan dilandasi moral yang luhur, jujur, transparan dan sikap yang profesional.


Sumber : Wikipedia Indonesia



CONTOH PENERAPAN ETIKA BISNIS

* Pesan dari Presiden Direktur :
"Dimanapun kita bekerja, kejujuran, integritas, kepercayaan, saling menghargai dan kerjasama selalu menjadi dasar terciptanya dan selalu terjaganya reputasi bisnis yang sehat."

* Etika Bisnis terbagi atas tiga bagian :
o Nilai-nilai yang mendasari cara / proses bekerja di Perusahaan
+ Visi, misi dan nilai-nilai yang berlaku di Perusahaan yang harus dipelihara dengan selalu mempertahankan standar dalam berperilaku.
o Etika Bisnis sebagai pedoman cara kita berperilaku di Perusahaan
+ Tugas apa saja yang harus kita lakukan?
+ Tanggung jawab dari kita
+ Bagaimana kita harus berperilaku terhadap orang lain?
+ Pelaporan kecurangan, perilaku yang tidak jujur atau perilaku yang tidak pada tempatnya
+ Kecurangan, korupsi atau transaksi tidak wajar
+ Pertentangan kepentingan atau tugas
+ Yang harus dilakukan jika timbul pertentangan
+ Bolehkah menerima uang, hadiah atau jamuan?
+ Menggunakan Aset Perusahaan
+ Melakukan Pekerjaan Lain
+ Menggunakan Informasi
+ Informasi palsu atau menyesatkan
+ Memberikan Tanggapan di muka umum
+ Catatan dan Laporan Pembukuan
+ Undang-Undang dan peraturan lain
+ Jika keluar dari Perusahaan
+ Pelanggaran atas Etika Bisnis

* Pembagian
o Pedoman ini berlaku untuk seluruh direksi dan karyawan serta setiap pihak yang bekerja sama dengan CCBI.

* Persetujuan
o Direktur dan/atau atasan langsung karyawan (dengan jabatan minimal manager) Perusahaan (sesuai dengan tingkatan kasus) harus meninjau dan dapat memberikan persetujuan secara tertulis untuk setiap keadaan yang mensyaratkan ijin khusus.

* Memantau kepatuhan terhadap hukum
o Pengambilan segala langkah yang bertanggung jawab untuk mencegah pelanggaran Etika Bisnis dan Perusahaan akan melakukan upaya-upaya yang diperlukan untuk menjaga kerahasiaan identitas setiap orang yang melaporkan dugaan pelanggaran

* Penyidikan
o National Examiner & Account Receivable Manager dan/atau National Legal Manager and Corporate Secretary akan dilibatkan apabila diperlukan dalam proses penyidikan. Mereka akan bekerja sama dengan direktur atau manager dari karyawan yang melakukan pelanggaran untuk memberikan saran mengenai tindakan perbaikan dan disipliner.

* Tindakan disipliner
o Metode penanganan pelanggaran Etika Bisnis.

* Tandatangan dan pernyataan menerima Etika Bisnis
o Setiap direktur, karyawan dan pihak ketiga yang bekerjasama dengan Perusahaan harus menandatangani formulir pernyataan penerima yang menegaskan bahwa mereka telah membaca Pedoman Tata Cara Etika Bisnis dan memahami ketentuannya.

* Contoh-contoh perilaku dalam praktek

SUMBER : http://www.coca-colabottling.co.id/ina/ourcompany/index.php?act=etika

Rabu, 25 April 2012

Tugas Softskill Bahasa Indonesia 2 (artikel bebas - 4)

NAMA : MEIKO RANDYA LAKSAMANA
KELAS : 3EA15
NPM : 14209653

Jakarta, CHIP.co.id - Dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan para enthusiast dalam hal kecepatan yang ekstrim pada performa komputer. sekarang ini, para vendor penyedia perangkat komputer mulai menggencarkan produk untuk meningkatkan performa komputer seperti  SSD(Solid State Disc), yang merupakan “drive” yang memiliki performa jauh lebih baik dibanding dengan HDD(Hard Disc Drive).
SSDUntuk mengetahui siapa yang tercepat, Anda dapat menyimak artikelnya di majalah CHIP edisi Februari mendatang yang berisi artikel tentang tes perbandingan SSD dari beberapa vendor dengan spesifikasi yang sama, yaitu : SSD berkapasitas 120GB dengan interface SATA III berkecepatan 6Gbps.
Berikut list peserta SSD yang akan di tes antara lain adalah:
SSDCorsair Force GT
SSDKingston Hyper X
SSDPatriot Pyro
SSDTeam Xtream S3
SSDOCZ Agility 3
SSDOCZ Vertex 3

SUMBER :  http://chip.co.id/news/read/2012/01/19/1719424/Preview:.Adu.Cepat.Enam.SSD.SATA.III

ANALISIS : PERKEMBANGAN KOMPUTER MAKIN MENINGKAT SEHUBUNGAN DENGAN MENINGKATNYA KEBUTUHAN MASYARAKAT AKAN INFORMASI, MAKA SEMAKIN CEPAAT JUGA MASYARAKAT INGIN MENDAPATKAN INFORMASI, DAN UNTUK ITU DIBUTUHKAN PULA ALAT AKSES INFORMASI YG CEPAT, SSD MERUPAKAN SALAH 1 HARDWARE YG MEMPERCEPAT KINERJA COMPUTER KE BAGIAN AKSES DATA YG DIBUTUHKAN , SSD TERSEBUT MEMBANTU SESEORANG MENGAKSES DATA LEBIH CEPAT BERPULUH2 KALI DIBANDING HARDISK LAMA, INILAH MENGAPA SSD MAKIN DIBUTUHKAN SAAT INI UNTUK DUIA KOMPUTERISASI

Tugas Softskill Bahasa Indonesia 2 (artikel bebas - 3)

NAMA : MEIKO RANDYA LAKSAMANA
KELAS : 3EA15
NPM : 14209653

Jakarta, CHIP.co.id - Corsair mulai gencar mengeluarkan produk peripheral game perusahaan dengan brand Vengeance. Dan kini, Corsair merilis Vengeance M90 yang merupakan penyempurnaan dari gaming mouse pendahulunya, Vengeance M60.
corsair vengeance m90Sensor Corsair Vengeance M90 menggunakan teknologi Avago Technologies Laser Stream. Dengan DPI yang dapat diatur hingga 5700 dpi, waktu responnya juga dapat diatur dari 125 Hz hingga 1000 Hz.
corsair vengeance m90Bagian kiri Vengeance M90 dengan 9 tombol macro ergonomis. Tombol ini dapat diatur penggunaannya, desainnya juga inovatif.
corsair vengeance m90Pada bagian bawah Vengeance M90 terdapat pelat aluminium dengan empat buah bantalan luncur PTFE.
corsair vengeance m90Interface yang dipakai Gaming Mouse ini adalah USB dengan kabel yang dikepang. Terdapat juga dasi Velcro untuk manajemen kabel.

sumber : http://chip.co.id/news/read/2012/04/04/2041424/Mouse.Gaming.Corsair.Vengeance.M90

ANALISIS : Corsair merilis Vengeance M90 yang merupakan penyempurnaan dari gaming mouse pendahulunya, Vengeance M60, lagi2 dalam hal ini penyempurnaan merupakan kewajiban yg mutlak diperlukan produsen dalam meningkatkat keunggulan barangnya, terutama corsair di bidang hardware computer.